Dedy Purwanto

Jurnal Pribadi

27 Jul 2015

Ada sebuah baris kalimat yang membuat saya jengkel dan kesal, sesuatu yang pernah terjadi, mungkin sudah beberapa kali?, saya baca sekali lagi, lalu saya abaikan hingga malam harinya saya buka kembali kalimat yang saya tulis itu, dan saya melihat diri saya yang dulu, melalui mata di diri saya yang baru, sambil senyum sendiri, betapa childishnya saya waktu itu, perasaan saya pun menjadi lebih baik.

Jurnal pribadi, siapa yang sangka, dulu waktu sekolah, medium ini sering saya olok-olok. Terlalu "cewek" lah, tempat curcol lah, dan sebagainya. Rasanya gengsi, masa cowok nulis di buku Diary?

Sekarang, buku jurnal malah menjadi teman saya, yang tanpa malu-malu saya bisa bercerita, dan manfaatnya terasa sekali. Setiap kali melihat kembali tulisan-tulisan dulu, saya bisa berkaca apa saja yang sudah saya lakukan dan lewati. Saya bisa melihat seperti apa diri saya yang dulu, bisa kemarin, bisa tahun lalu.

Seringkali kekesalan saya diakibatkan sesuatu yang sifatnya sepele, tapi menjadi besar karena terbawa emosi, kemudian saya bisa tersadar betapa bodoh nya saya waktu itu, dengan cara menulisnya di buku jurnal, sehingga diri saya dimasa depan bisa membacanya dan mentertawakan kebodohan itu, lalu menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Selalu menulis komplain tidak selalu baik, saya berusaha agar mood tetap baik dengan cara menulis lebih banyak hal membahagiakan ketimbang yang tidak.





© Dedy Purwanto | Archives