Dedy Purwanto

Beralih ke windows laptop

07 Jul 2015

Setelah berpindah perusahaan sekitar 4 bulan yang lalu, saya diberi satu unit laptop Dell Latiude E7440 (Windows 7). Saya cukup galau dengan laptop ini. Disatu sisi laptop yang diberikan sangat bagus spesifikasi dan build quality-nya, terutama layar IPS dan keyboardnya yang jauh lebih superior dibanding Macbook Air saya, tapi disisi lain saya sangat tidak terbiasa menggunakan Windows.

Alhasil beberapa bulan diawal saya seringkali menghabiskan waktu mencari pengaturan yang tepat agar bisa nyaman menggunakan laptop ini. Targetnya adalah harus tetap menggunakan linux sebagai platform utama. Ini saya capai dengan berbagai macam cara:

1. Menginstall Ubuntu Desktop di Virtualbox

Cara yang paling klasik, Permasalahannya adalah Ubuntu Desktop di VirtualBox terasa sangat lambat, bahkan setelah di tweak sampai maksimum: HW accell, full RAM, dsb. Untuk menggerakan jendela aplikasi saja sudah cukup lambat, terlebih lagi aplikasi yang saya sering gunakan — Gnome Terminal — cukup lambat merender teksnya di VM ini, terpaksa opsi ini saya tinggalkan.

2. Menginstall Ubuntu server di Virtualbox, lalu development melalui SSH

Opsi kedua adalah ubuntu server yang dihubungkan melalui SSH, berikut cara-cara yang saya gunakan:

2.1 Menggunakan full SSH untuk development

Saya cukup bertahan lama dengan opsi ini, yaitu menggunakan ubuntu server lalu koneksi menggunakan aplikasi SSH seperti Putty dsb, lalu coding dilakukan menggunakan gabungan tmux dan vim (dan shell tentunya), permasalahnnya adalah:

2.2 Coding di windows dan sisanya via SSH

Berbagai permasalahan menggunakan SSH client saya coba minimalisir dengan coding menggunakan desktop text editor seperti SublimeText. Ide dasarnya adalah saya mempunyai repository yang disimpan di suatu tempat, bisa jadi host, guest atau network drive, lalu host (Windows) saya akan dipakai untuk koding menggunakan SublimeText, dan linux (VM) akan saya gunakan untuk hal lainnya seperti manajemen development server serta untuk git, namun permasalahan baru muncul:

3. Menginstall Ubuntu Desktop di VMWare Player

Opsi terakhir ini cukup lucu karena selain kembali ke opsi pertama, saya kali ini menggunakan VMWare Player, yang saya nggak pernah coba sebelumnya. Dan saya cukup kaget, ternyata VmWare Player di windows bisa menjalankan Ubuntu Desktop dengan sangat cepat, bahkan hampir mirip seperti native installation. Akhirnya saya menggunakan opsi ini. Namun tetap ada masalah di awal-awal, seperti ketika saya menggunakan 3 monitor, terasa cukup lambat, jadi saya cuma menggunakan 2 monitor saja sekarang. Juga ketika laptop saya ditutup layarnya, sepertinya Ubuntu tetap berjalan sehingga laptop menjadi panas, solusinya adalah saya harus suspend vmnya secara manual. Saya juga harus mematikan trackpoint di laptop saya karena di Ubuntu sangat sensitif sekali akan trackpoint, sehingga ketika saya mengetik dan tidak sengaja menyentuh trackpoint, posisi kursor akan berubah dan apa yang saya ketika akan melenceng.

Untuk saat ini, Ubuntu Desktop di VMWare adalah opsi yang sepertinya akan saya gunakan untuk waktu yang cukup panjang, ketika saya pikir untuk berpindah kembali ke MacOS mungkin akan lebih rugi karena tidak destroyable seperti sebuah VM, dan saya lebih prefer debian terutama package managementnya ketimbang OSX.





© Dedy Purwanto | Archives