Dedy Purwanto

Aplikasi Budget

23 Jul 2015

Meskipun tidak pernah dibahas sama sekali di blog ini, saya adalah salah satu pemerhati aplikasi budgeting dan artikel-artikel personal finance pada umumnya. Bisa dibilang aplikasi budgeting adalah jenis aplikasi yang efeknya sangat besar pada kehidupan pribadi saya. Mulai dari mahasiswa yang kere sampai mulai bekerja dan akhirnya terlepas dari kehidupan paycheck-to-paycheck, kebanyakan adalah faktor dari ketelatenan mengatur keuangan dari aplikasi budgeting.

Aplikasi budgeting, atau personal finance (PF), pada umumnya adalah aplikasi yang bisa membantu kita mengatur keuangan dengan berbagai sistem. Di aplikasi tersebut kita bisa menaruh berapa pemasukan dan apa saja pengeluaran kita, lalu mengatur seberapa besar uang yang kita alokasikan untuk kegiatan tertentu, seperti belanja harian, travelling, tagihan bulanan, hingga bayar cicilan.

Sistem yang populer digunakan di aplikasi PF adalah envelope dimana kita meletakan sejumlah uang (technically, hanya berupa angka) kedalam kategori-kategori yang sudah ada, kemudian setiap kali menerima pemasukan, kita buat entry baru, sehingga kita bisa mengetahui berapa banyak dana yang kita punya dan berapa banyak yang bisa kita alokasikan. Untuk setiap pengeluaran, kita akan letakan di kategori yang sudah dibuat, ini bisa dengan cara otomatis, seperti saat kita menggesek kartu kredit atau melakukan transaksi online, bisa juga dengan cara manual.

Saat ini aplikasi PF yang cukup populer adalah Quicken, MoneyDance, Mint, dan YNAB. Saya sendiri adalah pengguna YNAB, yang bisa dibilang punya cult tersendiri.

YNAB, singkatan dari You Need a Budget, adalah aplikasi desktop dan mobile dengan sistem envelope, dan untuk setiap transaksinya lebih banyak dilakukan secara manual, artinya si user harus memasukan sendiri transaksi dan jumlahnya setiap kali ada pemasukan atau pengeluaran.

Fitur atau selling point yang paling utama di YNAB menurut saya adalah sistem budgeting-nya, disini kita bisa dengan mudah memasukan angka-angka di setiap kategori, melihat langsung efeknya ke budget yang kita punya, serta melihat angka-angka tersebut bekerja tiap bulannya dengan tampilan horizontal. Semisal saya memasukan Rp.500k untuk jajan bulan juli, maka disitu akan terlihat jumlah alokasi untuk jajan di bulan juli (500k), jumlah yang terpakai (300k) dan sisa yang belum terpakai (200k). Bila hingga agustus tidak berubah, maka sisanya akan mengalir ke bulan agustus, sehingga jika bulan agustus saya alokasikan lagi 500k untuk jajan, maka totalnya adalah 700k.

Tidak hanya fitur yang user-friendly dan intuitif, YNAB juga sering memberikan kursus gratis bagi para usernya, tentang bagaimana cara budgeting yang baik dan cara memaksimalkan penggunaan YNAB. Ini membuat YNAB memiliki komunitas believers tersendiri, karena tidak hanya memberikan aplikasi, YNAB juga memberikan konsep dan prinsip-prinsip budgeting.

Tapi YNAB bukanlah software yang sempurna. Selama beberapa tahun saya menggunakan YNAB, seringkali saya frustasi, banyak hal-hal yang saya tidak bisa lakukan di YNAB karena mereka punya konsep tersendiri, alasan lainnya adalah, saya merasa YNAB adalah software yang _progress_nya lamban, tidak ada fitur baur yang signifikan selama beberapa tahun terakhir, dan sedikit banyak hanya memperbaiki apa yang sudah ada.

Contoh yang paling simpel adalah membuat budget untuk bulan selanjutnya di bulan sekarang, terdengar simpel, tapi bisa sangat rumit karena tidak ada cara yang pasti. Kita bisa menggunakan dana yang tidak teralokasikan bulan ini untuk bulan depan, tapi kemudian tampilan di YNAB untuk bulan ini akan menunjukan bahwa kita punya dana yang tidak teralokasikan, ini kontradiktif dengan prinsip YNAB yaitu every dollar has a job. Contoh lain adalah, sulitnya membuat budgeting untuk sebuah jurnal, contoh seperti ketika kita ingin pergi travelling, dan ingin melakukan budget khusus, maka kita harus membuat master category baru yang tidak akan bisa dihilangkan (hanya bisa di hide), sementara itu cara yang dianjurkan adalah memasukannya ke sub-category seperti Travelling atau Misc, yang bisa jadi sangat rumit ketika jenis budgeting untuk travelling bisa berbeda-beda (tiket pesawat, hotel, dll).

Akhir kata, meskipun software PF seperti YNAB telah banyak sekali membantu saya, tapi masih banyak juga room for improvements untuk YNAB dan software PF pada umumnya. Karena saya juga sudah mencoba berbagai software PF lainnya, dan selalu saja ada hal-hal yang saya rasa cukup utama tapi tidak ada pada mereka.





© Dedy Purwanto | Archives