Dedy Purwanto

Menjadi Ayah

05 Dec 2014

Banyak laki-laki di usia muda yang tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah, termasuk saya. Sosok ayah dimata saya adalah seseorang yang berumur 30an tahun, berwibawa dan posisinya sudah sangat mapan, sementara di usia saya yang masih 25, fikiran saya masih lebih banyak berkutat di pekerjaan, saya belum tahu perasaan apa yang harus saya miliki sebagai seorang ayah. Takut, gugup, bangga, apalagi?

Jam dinding menunjukan pukul 1 dini hari, saya sedang berkutat sendirian didepan komputer. Istri saya, sedang hamil besar dan tinggal menunggu hari untuk melahirkan. Selama hamil, istri saya harus tinggal terpisah dengan saya; kami memutuskan agar dia untuk sementara waktu berada didekat orang tuanya dikarenakan tempat kerja saya yang terlalu jauh. Kami juga sepakat bahwa saya akan langsung pulang ketika mendengar kabar bahwa dia akan melahirkan; dan malam itu adalah hari yang ditentukan oleh Tuhan. Ponsel saya pun berdering, 5 menit kemudian, tiket pesawat sudah dipesan untuk pagi harinya.

Setelah itu, saya tidak bisa tidur sama sekali, saya menyibukan diri dengan mengemas barang dan mempersiapkan dokumen dan pekerjaan yang harus dibawa selama saya bepergian. Tidak ada perasaan gugup, takut ataupun cemas pada saat itu; tapi lagi-lagi saya tetap tidak bisa memejamkan mata. Apa yang seorang ayah lakukan ketika melihat anak pertamanya? Apa yang harus saya katakan di rumah sakit? Apa saya harus menangis terharu?. Pertanyaan terakhir mengacu kepada cerita beberapa rekan kerja saya yang sudah menjadi ayah, dimana mereka menangis terharu ketika bayi mereka lahir. Kepala saya dipenuhi dengan pertanyaan seperti ini. Akhirnya saya terjaga hingga pagi.

Setelah berkemas dan mempersiapkan segalanya, saya berangkat dari rumah ke bandara, ada sedikit perasaan lelah dan mengantuk, maklum saja karena saya sudah terjaga selama lebih dari 24 jam. Perjalanan menuju bandara kembali lagi di isi dengan lamunan, tidak ada perasaan haru, yang ada hanyalah pertanyaan tentang kehidupan. Sampai di bandara, saya menelpon orang tua untuk memberikan kabar gembira ini, selama menelpon pun saya tidak ada euphoria tersendiri, yang ada hanya perasaan datar, yang saya anggap sangat tidak wajar. Setengah jam berlalu, dan pesawat yg saya tumpangi akhirnya berangkat.

Sesampainya dirumah sakit, untuk pertama kalinya saya melihat bayi kami, dia adalah seorang perempuan, kulitnya sedikit merah, tanda bahwa ia masih putih dan bersih, disampingnya tampak istri saya yang sangat kelelahan, tapi dimatanya terpancar jelas rona bahagia itu. Saya menatap bayi saya sejenak lalu menggendongnya; dia sedang tidur, Shazia namanya, nama yang kami berdua cari jauh sebelum hari ini tiba, sesekali Shazia menguap dan menggelengkan kepalanya yang mungil, saya masih tidak menangis.

Faktanya, saya sedang bingung, bingung tentang perasaan apa yang seharusnya saya rasakan sekarang, disatu sisi tentunya saya sangat senang, tapi disisi lain, 9 bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk membiasakan diri menerima fakta bahwa saya akan jadi ayah; jadi tidak ada elemen kejutan disini. Selama beberapa hari, reaksi ini tidak berubah, saya masih datar. Beberapa hari berlalu, saya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal ini lagi; saya sudah menjadi seorang ayah, dan tidak harus di dramatisir lebih jauh lagi.

Lalu kemudian beberapa hari yang lalu, saya mulai tersadar: Saya menikah muda, dan sudah punya anak di usia 25 tahun, dengan pekerjaan yang insya Allah sudah cukup stabil, serta sudah membuat berbagai macam perencanaan keuangan dan yang lainnya untuk 5-7 tahun kedepan. Di usia dimana laki-laki seumuran saya mungkin hidupnya masih lebih keras ketimbang saya; bisa jadi keuangan, masih mencari pasangan dan sebagainya, saya sudah berada di posisi yang cukup aman. Ilmu dan pengalaman yang pelan-pelan saya kumpulkan, dan tidak kalah juga karunia Allah yang ia turunkan melalui berbagai hal seperti kesempatan, timing yang tepat (untuk menikah, pindah pekerjaan, punya anak, dsb), sudah membawa saya menjadi orang yang lebih fokus untuk menghadapi kehidupan selanjutnya.

Saya akhirnya menemukan satu perasaan yang paling tepat untuk momen yang paling bahagia ini: Syukur. Saya adalah termasuk orang-orang yang sangat beruntung, saya bukan orang yang sangat pintar atau sangat kaya atau sangat ini dan itu, tapi kehidupan saya seringkali dimudahkan oleh Allah dengan berbagai macam cara, hadirnya Shazia di kehidupan kami bagi saya adalah sebuah pertanda, dari semua persiapan yang kami kumpulkan, insya Allah kami bisa mencapai mimpi-mimpi dimasa depan, dalam hal berkeluarga dan berkarir. Amin.





© Dedy Purwanto | Archives