Dedy Purwanto

Film masa kecil

06 Dec 2014

Salah satu faktor yang membentuk diri saya sebagai seseorang yang imaginatif adalah film yang saya tonton semasa kecil, film-film yang saya tonton semasa itu adalah film-film sci-fi anak-anak seperti Invisible Dad, Jurrasic Park, Starship Troopers dan sejenisnya yang membawa angan-angan ke hal-hal yang bisa dicapai karakter di film-film tersebut. Spiderman, bisa membuat jaring laba-laba melalui sebuah alat canggih di tangannya, proffesor di film Jurrasic Park (kartun), bisa membuat sebuah robot yang sangat canggih, Invisible Dad, bisa membuat game dalam sehari dan membuat alat canggih dari perangkat elektronik biasa.

Film-film ini sangat menginspirasi saya pada saat itu, kebanyakan dari film ini membuat saya tertarik untuk mempelajari bidang elektronik dan robotics, saya mulai membuat berbagai macam "peralatan" yang basically adalah 'sampah', yang pada saat itu saya anggap sebagai pencapaian, seperti alat komunikasi menggunakan magnet (tidak berfungsi), robot yang menyerupai film Jurassic Park, yang saya buat menggunakan seperangkat servo, kertas karton dan selotip, mobil mini yang bisa ditunggangi satu orang, yang saya buat dari beberapa bilah papan dan bearings. Dan banyak lagi. Ini semua saya buat semasa saya SD.

Benda-benda yang saya buat tersebut, jika dilihat sekarang, adalah sampah, tidak ada satupun yang bekerja, saya ingat bahwa ayah saya sering memahari saya karena membuat benda yang tidak ada gunanya, yang menghabiskan uang dan peralatan kerjanya; ayah saya bekerja sebagai pengrajin pada saat itu, yang memiliki alat dan bahan yang saya perlukan untuk membuat "karya" saya. Tidak hanya itu, semua mainan yang dibelikan ayah saya, selalu saya bongkar di hari kedua, dengan dalih ingin melihat cara bekerja alat tersebut, padahal waktu itu saya masih SD, jangankan untuk mengerti mekanisme mainan elektronik, pelajaran fisika saja belum dapat. Bagaimanapun, saya tetap nekat dan merusak semua mainan saya untuk dibuat menjadia karya-karya yang tidak berfungsi sama sekali.

Beranjak SMP, saya mendapatkan sebuah komputer, yang pada awalnya diperuntukan ke kakak pertama saya namun tidak sering dipakai, fokus saya beralih ke software dan pemrograman, saya sangat tertarik di bidang ini karena saya akhirnya saya bisa membuat sesuatu yang berfungsi, ditambah lagi dengan tanpa modal; menulis program hanya membutuhkan software dan pengetahuan, tidak perlu membeli kabel, servo atau papan PCB. Mengetahui hal ini, saya semakin ketagihan belajar menulis program, dan akhirnya 'terjerumus' ke fase selanjutnya, yaitu membuat game.

Membuat game menjadi mimpi baru saya pada masa itu, kombinasi dari nikmatnya menulis program, dan membuat dunia imajinatif melalui sebuah game. Pada masa SMP, saya menghabiskan waktu belajar bahasa pemrograman dan software seperti SwishMax, Visual Basic, dan Java. Game pertama saya adalah sebuah Dart game yang dibuat mengunakan Flash, lalu game-game selanjutnya saya buat menggunakan Visual Basic dan Java. Saya benar-benar 'terlena' dengan dunia bahasa pemrograman pada masa itu, semua imajinasi saya bisa saya tuangkan melalui software. Pada saat yang sama, kebanyakan teman-teman saya masih berkutat pada hal-hal umum, karena pemrograman sendiri masih sangat jarang di tempat saya tinggal pada waktu itu, apalagi anak SMP yang menulis software. Hobi saya ini kemudian mengayuh masa depan saya ke arah software, mulai dari bergabung ke SMK jurusan rekaya perangkat lunak, mulai menerima pekerjaan sampingan sebagai programmer, melanjutkan studi hingga menjadi sarjana di bidang software engineering, hingga bekerja sebagai programmer.

Saya sangat bersyukur bisa ada di jalur ini, jalur yang sangat saya minati dan setiap hari saya bisa bekerja sesuai dengan hobi saya, semangat yang saya bawa setiap harinya ketika bekerja, adalah sama dengan semangat saya ketika belajar pemrograman 14 tahun lalu ketika masih SMP. Dan bagi saya salah satu yang berjasa "memupuk" minat saya dibidang ini, adalah film-film masa kecil saya yang sangat imajinatif. Hal inilah yang seringkali membuat saya beranggapan bahwa masa kecil harusnya dilewati dengan hal-hal yang menstimulasi imajinasi kita sehingga kita bisa berfikiran kreatif, salah satunya adalah dengan menonton film-film yang bisa membawa nilai-nilai positif, pada masa saya dulu, setiap harinya sangat banyak film-film seperti ini, karena masa itu bisa dibilang sebagai jaman keemasannya anak-anak, mulai dari lagu anak, film anak dan lain sebagainya.

Di masa sekarang, saya merasa sudah mulai jarang ada acara-acara televisi yang seperti dulu, namun hari ini saya menonton film terbaru dari Disney, yaitu Big Hero 6, awalnya saya menyangka ini akan jadi film yang biasa saja, namun ketika karakter utama di film ini, Hiro, mulai mengeluarkan kemampuan asli dari robot petarungnya, juga ketika dia mendemonstrasikan kemampuan microbots nya, saya mulai teringat dengan film-film yang dulu saya tonton: Keren, imajinatif, dan sangat memotivasi. Saya yakin jika saya menonton film ini sebagai anak kecil, saya akan sangat termotivasi untuk belajar hal-hal yang dilakukan oleh Hiro, tentu saja tidak akan persis sama karena ini hanya sebuah film, tapi pencapaian yang dimiliki Hiro pastinya bisa membuat anak-anak jaman sekarang menjadi insan yang imajinatif dan kreatif, tidak hanya asik bermain dengan tablet dan smartphone yang dibelikan orang tuanya, tapi juga mengeksplorasi ide-ide baru, terutama di jaman sekarang ini sudah sangat mudah untuk berkreasi dengan maraknya bahasa pemrograman untuk anak-anak, mikro-kontroller dan 3D printer.

Pada akhirnya, saya merasa sangat senang bisa menonton film ini dan merasakan sedikit aroma nostalgia film-film inspiratif masa kecil dulu, semoga dengan adanya film ini banyak anak-anak yang terinspirasi untuk menjadi lebih kreatif dan tidak pasif terhadap ledakan teknolog yang terjadi sekarang ini.





© Dedy Purwanto | Archives