Dedy Purwanto

Mencicipi PyCharm

31 Aug 2014

Jika vim adalah sebuah keyakinan, maka saya adalah pengikut yang paling sering ragu, tidak jarang saya melirik editor lain yang tampilannya lebih wah dan lebih nge-hype, dan kali ini saya tergoda untuk meninggalkan VIM dengan melirik PyCharm

Saya sudah acapkali melihat bagaimana satu demi satu editor teks bermunculan dan mengambil perhatian banyak orang, seperti Sublime Text dan Atom, respons dari para usernya luar biasa heboh dan life-changing, saya sendiri sempat tergoda dan mencoba satu demi satu, Atom adalah salah satu yang paling gagal memberikan impresi bagus. Sublime Text, tidak terlalu bagus juga, kemudian sekitar 3 minggu yang lalu saya mulai melirik PyCharm, saya memang paling banyak berkutat dengan codebase python dan membutuhkan editor yang dukungan python-nya bagus. Sebagai orang yang terkadang merogoh kocek untuk membeli software legal, PyCharm yang dibanderol 1 juta rupiah terlihat menjanjikan untuk ukuran harga, jadi saya putuskan untuk mencoba versi trial nya selama 1 bulan.

Impresi Pertama

PyCharm adalah editor yang seringkali dielu-elukan di komunitas online yang saya ikutin, baik itu mailing-list, maupun news-aggregator seperti HN dan Reddit, setelah menginstall versi komersial dan mencoba selama beberapa jam, memang bagus sekali PyCharm ini, mulai dari code completion, code navigation, dsb. Berikut daftar fitur yang sangat saya sukai di PyCharm:

Kekurangan Pycharm

Meskipun banyak sekali fitur yang sangat menarik lainnya dari PyCharm, berangkat dari VIM, saya banyak sekali melakukan adaptasi dan akhirnya frustasi sendiri dengan PyCharm, mungkin bisa dibilang juga frustasi dengan konsep GUI dan IDE untuk pemrograman, berikut ketidak nyamanan saya ketika menggunakan PyCharm (dan juga IDE/GUI editor pada umumnya)

Aftermath

Akhirnya saya kembali ke vim, mengambil beberapa hal yang saya suka dari PyCharm dan meletakannya di vim, contohnya CTAGS, vim-jedi, TagBar, NERDTree dan beberapa plugin lainnya. Plugin-plugin ini memang ada yang tidak sebaik PyCharm, contohnya untuk code navigation, tapi tingkat ke-akurasiannya masih sangat bagus dan hanya melenceng di saat-saat tertentu, dan keuntungnya menggunakan vim sendiri adalah plugin-plugin ini terus diperbaharui dan alternatif selalu bermunculan.

PyCharm adalah editor yang sangat bagus dan akan saya rekomendasikan kepada siapapun yang baru mulai belajar Python ataupun yang sudah proffesional dan ingin lebih produktif (jika mereka lebih terbiasa dengan GUI). Untuk saya sendiri, saya akan masih tetap menjadi pemakai setia vim.





© Dedy Purwanto | Archives