Dedy Purwanto

Programmer dan mengetik

08 Jun 2014

Seorang programmer menemukan sebuah ide, lalu dia mulai menuliskan kode baris demi baris secara perlahan sambil melihat keyboardnya, satu jam kemudian dia berhenti dan membuang idenya, frustasi karena kecepatan mengetiknya tidak bisa mengejar kecepatannya berfikir. Banyak yang tidak menyadari kemampuan mengetik fasih bagi programmer sama halnya seperti mempunyai kaki yang sehat bagi seorang pelari.

Perjalanan saya berlatih mengetik cepat dimulai ketika saya belajar pemrograman secara otodidak, pada saat itu, saya seringkali membeli majalah pemrograman yang memuat artikel tentang pembuatan sebuah software, yang mana pada kala itu, source code di lampirkan langsung di majalah tersebut, sehingga saya harus menyalin kodenya baris demi baris. Perlahan tapi pasti, saya mulai mengingat posisi tombol-tombol keyboard dan setelah beberapa bulan, saya mulai fasih mengetik tanpa melihat keyboard.

Pada saat itu, saya sudah memposisikan diri saya sebagai 'touch-typist', atau seseorang yang bisa mengetik tanpa melihat keyboard. Namun teknik mengetik saya masih jauh dari kata 'benar', saya tidak pernah mengikuti pendidikan formal mengetik dan cara mengetik saya cenderung acak, saya bahkan tidak menggunakan beberapa jari seperti kelingking dan jempol.

Ketika saya mulai lebih sering mengetik kode, terutama saat saya mulai bekerja, barulah saya merasakan bahwa kemampuan mengetik saya meskipun cepat, masih terasa 'gagap', setiap kali mengetik, saya masih harus berfikir tentang posisi-posisi tombol di keyboard serta menyesuaikannya dengan posisi jari saya yang acak dalam menekan tombol. Disaat menulis kode, saya merasa cara saya menterjemahkan apa yang ada di fikiran menjadi baris-baris kode terhambat oleh cara mengetik saya yang tidak benar ini.

Pada saat itulah saya mulai berniat untuk belajar mengetik dengan benar, untuk mendukung rencana ini, saya membeli sebuah keyboard yang desainnya dibagi antara lengan kanan dan kiri, yaitu Microsoft Natural Ergonomic 4000, keyboard ini memaksa kita untuk mengetik dengan benar dengan cara membagi set huruf menjadi 2 bagian, sehingga huruf-hurufnya harus ditekan oleh tangan dan jari yang benar.

Setelah beberapa bulan 'memaksa' diri saya untuk terbiasa dengan layout keyboard tersebut, akhirnya saya bisa fasih mengetik 10 jari dan sangat merasakan manfaatnya, mengetik bukan lagi menjadi hambatan bagi pikiran saya untuk menulis seperti dulu. Mengetik sudah terasa seperti menulis tangan, dimana keyboard sudah terasa seperti ekstensi dari tangan saya, tidak ada lagi 'thought process' dimana saya harus membayangkan posisi jari dan tombl keyboard seperti dulu. Ketika menulis kode, saya bisa terfokus pada apa yang ingin saya tulis ketimbang bagaimana cara saya menulisnya (membayangkan posisi keyboard).

Setelah fasih mengetik 10 jari dengan cara yang benar, barulah saya mengakui benar manfaatnya, dulunya, saya sering mencemooh orang yang mengikuti kursus mengetik 10 jari, menganggap bahwa asalkan kita bisa mengetik tanpa melihat, tidak perduli benar atau tidak, maka sudah cukup.

Saat ini, saya masih sering melihat teman serta rekan kerja saya, terutamanya sesama programmer, yang masih harus 'berfikir' sejenak ketika mengetik, mencari-cari dan menyesuaikan posisi keyboard dengan jari mereka, sehingga memperlambat kerja serta kemungkinan menghilangkan fokus mereka terhadap apa yang mereka kerjakan. Apa yang mereka fikirkan dan ingin dituliskan di kode, terhambat oleh 'thought process' dalam mengetik. Ini seharusnya bisa dieliminasi dengan kemampuan mengetik yang benar. Mengetik seharusnya sudah seperti berbicara, fasih dan tanpa keraguan.

Pada akhirnya saya berprinsip bahwa seorang programmer sudah wajib untuk menguasai kemampuan mengetik 10 jari yang benar, secara langsung atau tidak, alam bawah sadar kita 'terganggu' fokusnya dalam bekerja ketika kemampuan mengetik menghambat proses penyampaian ide di fikiran menjadi kata-kata. Mengetik bagi seorang programmer sama seperti melukis bagi seorang seniman, fasih, tidak gagap dan penuh kepastian.





© Dedy Purwanto | Archives