Dedy Purwanto

Ponsel Pintar

07 Apr 2014

Lalu lintas di jalan raya sudah menyepi, waktu menunjukan pukul 3 pagi. Belasan halaman web tentang smartphone yang gagal charge masih terbuka di laptop sembari saya sesekali mengutak-atik smartphone saya yang sudah mati berhari-hari. Saya mulai sering bertanya apakah saya benar-benar butuh smartphone?

3 tahun lalu dibulan Agustus, saya mendapatkan smartphone pertama saya setelah berbulan-bulan (atau tahun?) menabung dan membaca berbagai artikel tentang perangkat "pintar" ini. 3 tahun lalu adalah salah satu awal dari era ke-emasan gadget pintar, saat itu saya tidak perlu berfikir 2-kali untuk mengambil keputusan bahwa saya benar-benar membutuhkan smartphone. Saya sempat membanding-bandingkan beberapa ponsel, serta mengikuti kabar terbaru ponsel incaran saya pada waktu itu.

Tidak ada target khusus tentang kapan saat itu saya harus memiliki smartphone, namun beberapa minggu sebelum akhirnya membeli, saya kehilangan ponsel saya di kereta karena kelalaian sendiri; dan petualangan menggunakan smartphone akhirnya dimulai.

Smartphone pertama saya adalah Samsung Galaxy S2, yang diluncurkan di Malaysia pada bulan Agustus 2011. Ponsel ini adalah salah satu yang paling dielu-elukan banyak media, yang penjualannya diprediksi akan menyaingin — atau bahkan mengalahkan — iPhone. Saya pribadi memutuskan memilih S2 karena bisa di ubah-ubah sesuai keinginan, mengikutin nature-nya yang open-source.

Beberapa minggu pertama saya menggunakan smartphone adalah masa-masa yang paling adiktif; saya menginstall berbagai macam software dan game, melakukan modifikasi dan sebagainya. Setiap ada waktu luang, mata saya selalu tertuju pada smartphone. Seiring berjalannya waktu — meskipun tidak signifikan — saya mulai mengurangi penggunaan smartphone.

Selama lebih dari setengah tahun, saya harus menggunakan kereta untuk pergi ke kantor. Semasa itulah smartphone serasa berguna untuk mengisi kekosongan waktu; mulai dari membaca artikel, membalas email hingga bermain game, semua saya lakukan untuk mengusir kebosanan.

Fast-forward ke beberapa tahun kemudian, tepatnya setelah setahun menggunakan smartphone, saya mulai merasa penggunaan saya terhadap smartphone cenderung tidak produktif dan kurang membawa manfaat. Saya lebih sering aktif di media sosial serta bermain game, sedikit sekali — bahkan hampir tidak ada — waktu saya di gadget yang saya gunakan untuk keperluan yang bermanfaat, terkecuali mengecek email.

Masa-masa selanjutnya mulai mengubah pemikirkan saya tentang gadget, seringkali saya melihat orang-orang menghabiskan waktu mereka bersama dengan bermain gadget masing-masing, hal yang dulunya saya anggap keren, namun mulai saya anggap jauh dari baik. Saya mulai lebih suka untuk melihat sekitar, berfikir tentang ide-ide, hal-hal kecil yang sering terlewatkan serta mengapresiasi lingkungan sekitar ketimbang sibuk dengan smartphone.

Beberapa hari yang lalu, smartphone saya memutuskan untuk rusak, tidak bisa di-charge dan sudah berkali-kali diganti baterai. Beberapa hari tanpa smartphone ternyata tidak membuat saya susah, saya semakin menyadari bahwa saya memang tidak butuh smartphone, saya mulai menyadari gemerlap dunia gadget adalah sebuah delusi yang memancing naluri konsumerisme.

Kini saya sudah tidak tertarik dengan smartphone, kalaupun harus punya, akan saya batasi ke fitur yang memang dibutuhkan untuk pekerjaan saya seperti email dan web-browser. Waktu yang dulu saya habiskan dengan menatap smartphone, kini mulai saya ganti dengan hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti kembali aktif menulis serta hal-hal menarik lainnya. Semoga saja ini bisa berlanjut hingga bertahun-tahun.





© Dedy Purwanto | Archives