Dedy Purwanto

Pendidikan Modern

11 Mar 2014

Malam ini ketika saya sedang bersantai dan lurking di facebook, saya menemukan tautan essay dari seorang dosen di Universitas Pancasila Indonesia, yang menulis bahwa mahasiswanya menggunakan cara belajar yang sama seperti 17 tahun lalu, sangat outdated dan tidak efektif. Beliau kemudian mengemukakan tools dan metodologi yang lebih modern seperti penggunaan VCS dan social media sebagai bahan belajar. Saya setuju dengan sebagian besar poin yang beliau kemukakan, namun saya terperangkap dengan kata-kata stagnan selama 17 tahun, penggunaan teknologi serta relevansi dan impactnya terhadap sistem pendidikan modern.

Awalnya saya hanya ingin membuat komentar singkat, namun karena ada beberapa poin dipikiran saya yang (seperti biasa) berkembang menjadi kalimat lalu paragraf, saya memutuskan untuk menulis artikel singkat mengenai ini. Berikut adalah ucapan beliau yang membuat saya tertarik untuk membuat tulisan ini:

Dari sekian banyak mahasiswa, tidak ada satupun yang mengikuti perkuliahan sesuai dengan kondisi jaman sekarang. Semuanya, tanpa terkecuali, masih kuliah seperti halnya saya kuliah di tahun 1997 dulu. Ya benar, selama 17 tahun tidak ada perubahan metodologi sama sekali.

Saya mengerti dari tulisan beliau, fokus utamanya adalah dari sisi mahasiswa/individual: yang seharusnya di jaman sekarang menggunakan tools dan metodologi yang lebih modern, mengurangi aktifitas online/offline yang tidak positif, serta proaktif dalam belajar (tidak hanya dikelas). Namun ketika berbicara sistem pendidikan yang tidak berubah selama belasan tahun, pemanfaatan teknologi modern sebagai complementary tools tidak akan banyak mengubah keadaan. Jadi ditulisan ini saya ingin berbicara tentang konsep pendidikan modern yang ada dibenak saya, yang lebih penting dan besar dampaknya.

Sebelum itu, menurut saya tools dan metodologi yang beliau kemukakan adalah jenis usaha untuk membuat kegiatan belajar menjadi lebih efektif. Contohnya di kampus saya dulu, dosen akan meng-upload material satu semester penuh ke portal mahasiswa, yang bisa didownload dan dipelajari secara proaktif sebelum masuk ke kelas. Dosen saya jarang sekali menulis material yang jauh berbeda dipapan tulis dengan yang sudah mereka upload. Ini juga salah satu usaha membuat sistem belajar menjadi efektif, sama seperti anjuran beliau untuk memanfaatkan VCS dan media sosial.

Permasalahannya adalah: Seorang pengajar, duduk dikelas selama satu jam bersama puluhan murid, berusaha mengajarkan sesuatu kepada para murid yang memiliki:

Bayangkan mengajarkan kelas awal pemrograman, dimana ada murid yang baru pegang komputer satu bulan lalu, sudah pegang komputer 3 tahun lalu, belum tau apa itu program, dsb (basis pengetahuan berbeda). Setelah kelas berakhir dan dilanjutkan ke hari berikutnya ke topik yang lebih tinggi, berapa banyak yang sudah mengerti materi kemarin? (kecepatan pemahaman berbeda). Dan dari yang mengerti, berapa banyak yang sepaham dengan apa yang guru fikirkan? (cara menterjemahkan materi yang berbeda). Ini berlanjut selama bertahun-tahun hingga kalendar perkuliahan berakhir. Tentu saja sebagai mahasiswa diharapkan untuk belajar secara proaktif diluar jam kelas, tapi seberapa banyak yang bisa seperti ini? Terlepas dari alasannya (kerja sampingan, malas, ada tanggung jawab lain, dsb).

Diatas semua itu, tambahkan kurikulum dan matakuliah yang sudah di preset selama satu semester, yang mengasumsikan kita akan bisa belajar B setelah belajar A. Menarik semasa kuliah dulu banyak teman saya yang mengaku bisa jaringan setelah belajar pemrograman, tapi pemrograman diajarkan setelah jaringan.

Sejauh ini apa yang ingin saya kemukakan adalah secara langsung/tidak langsung, sistem belajar-mengajar konvensional yang diterapkan oleh institutsi pendidikan membuat mahasiswa menjadi pasif dikelas dan cenderung "disuapi", oleh materi yang awalnya ditargetkan agar mahasiswa menguasai hal-hal tertentu, namun gagal karena cara penyampaiannya yang tidak sesuai dengan cara mencerna tiap individu. Sebagai contoh, bahasa pemrograman apa yang cocok untuk mata kuliah logika dasar? Python atau C++? Kita naikan lagi, pemrograman berbasis teks atau pemrograman visual? Lalu apa yang selama ini diajarkan diperkuliahan untuk mencapai objektif tersebut? efektifkah?.

Teknologi dan layanan yang dikemukakan oleh beliau adalah asupan yang menurut saya, harus dipelajari oleh para mahasiswa. Saya sangat setuju kalau mahasiswa IT harus punya akun Github, bukan cuma mahasiswa, siswa SMP/SMA, karyawan, siapapun yang berminat di computer science dan software development harus belajar tools yang membawa produktifitas seperti git dan VCS lainnya. Tapi dari sisi belajar-mengajar saya melihat itu cuma sebagai complementary ketimbang solusi. Apakah si A akan menulis kode yang lebih bagus karena di-push ke GitHub ketimbang si B yang hanya di zip? belum tentu. Memang betul dengan mendandani kode kita melalui git dan github, presummably karya kita lebih bagus ketimbang yang tidak, tapi kembali lagi seberapa relevan menyelesaikan sebuah problemset programming versus menggunakan git? ditambah lagi dengan correlation doesn't mean causation, ditambah lagi dengan mudahnya menggunakan github.

Tentu saja saya nggak menentang penggunaan teknologi dan metodologi yang beliau kemukakan, saya sendiri punya akun github dan aktif di sosial media, menggunakan berbagai layanan dan tools yang membuat saya lebih produktif. Saya sangat setuju bahwa setiap individu harus terus mengasah pengetahuannya secara proaktif karena dunia berkembang luar biasa cepat. Bagi pelajar, mempunyai online presence di tempat-tempat seperti Github, milis dan sebagainya bukan hanya sebagai suplemen untuk belajar yang lebih efektif, tapi juga sebuah jembatan kedunia informasi yang jauh lebih luas. Namun menjadi proaktif secara individual, pada akhirnya hanya akan memberi keuntungan secara individu. Target yang lebih besar, yaitu mencari metodologi pendidikan modern serta merombak yang lama, adalah misi yang efeknya jauh lebih besar.

Meskipun belum menemukan kandidat yang ideal, beberapa tahun yang lalu saya diperkenalkan dengan KhanAcademy melalui TED. Melalui event ini, sang penemu KhanAcademy menjelaskan permasalahan yang hampir mirip dengan pembahasan ini; banyak murid yang tidak bisa mengejar ketinggalan materi di kelas dan 'malu' untuk terus-terusan bertanya hal yang itu-itu saja, sementara kurikulum terus berjalan.

Inilah yang KhanAcademy coba untuk selesaikan, dengan cara memberikan video materi pembelajaran seperti aritmatika, biologi, astronomi dan sebagainya, pengunjung dipersilahkan untuk nonton dan mengulang sepuasnya, lalu dihadapkan dengan ratusan latihan yang seiring dengan waktu, akan menyesuaikan dengan kemampuan dan teknik belajar mereka. Siapapun bebas mau belajar apa dan mulai dari mana, kita bisa men-track progress kita, bagian apa yang paling susah dimengerti, serta berdiskusi dengan member lain.

Perbedaan utamanya adalah disini kita bisa mulai belajar dari manapun, ingin belajar pemrograman? bisa mulai dari Java, tidak cocok? mulai dengan Python, dsb. Setiap individu bisa belajar dan mencapai target yang sama melalui jalur yang berbeda, tanpa ada target waktu tertentu.

Menurut saya pendidikan modern jauh dari sekedar menggunakan modern tools, tapi lebih kepada bagaimana teknologi dan tools tersebut menyelesaikan permasalahan dalam proses belajar-mengajar, jangan hanya sekedar tools tambahan. Saya akan lebih senang kalau belajar melalui screencast seperti di KhanAcademy, kumpul tugas tanpa git pun tak masalah, kirim sourcecode dalam zip pun tak mengapa; meskipun bagus, mereka tidak terlalu relevan.

Tentu saja model pembelajaran seperti di KhanAcademy bukan hal yang mudah untuk diterapkan di institutsi pendidikan konvensional, di US saja masih belum banyak institusi yang memanfaatkan KhanAcademy secara penuh, lebih-lebih berganti total. Tapi menurut saya ini adalah salah satu awal menuju pendidikan yang lebih modern, menggantikan sistem belajar-mengajar yang stagnan selama belasan, puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu. Menuju ke sistem belajar yang jauh lebih bebas dan versatile, agar para mahasiswa bisa belajar apa yang mereka sukai, dan menyukai apa yang mereka pelajari. Mengutip testimoni Bill Gates diakhir video TED diatas:

You just got a glimpse at the future of education.





© Dedy Purwanto | Archives