Dedy Purwanto

Takut Email

13 Mar 2014

Sebagai medium komunikasi yang berumur lebih dari 3 dekade, email masih menjadi benda yang asing bagi kebanyakan orang — terutama para remaja. Gelombang media sosial dan instant messaging ikut membuat keberadaan email semakin terbenam. Apa kini email sudah bukan jamannya lagi? apakah keberadaan email hanya sebatas untuk mereka para senior saja?

Hari ini saya dapat pesan tentang pengenalan email untuk kalangan remaja. Meski antusias, saya tidak bisa berhenti bertanya: Seberapa lama mereka bisa tahan menggunakan email?. Pertanyaan ini tidak lepas dari pengalaman pribadi dulu, saya bukanlah pengguna aktif email ketika SMA, bahkan kuliah. Butuh bertahun-tahun bagi saya untuk akhirnya benar-benar aktif memanfaatkan email.

Di era media sosial seperti sekarang, kita lebih memilih media sosial seperti Facebook dan Twitter sebagai media komunikasi, dengan alasan responnya yang lebih cepat, serta fitur yang kompetitif. Kita bisa terhubung lebih mudah dengan kenalan serta orang-orang baru melalui media sosial. Dalam hal ini tidak ada alasan untuk menggunakan email; media sosial sudah lebih dari cukup.

Inilah kenapa saya terkadang skeptis mencari relevansi antara email dan remaja. Susah sekali mencari hal yang membuat email menjadi komunikas yang lebih efektif dibanding media sosial bagi para remaja; di pekerjaan saya pun sering mendengar keluhan rekan kerja, yang sulit menghubungi pelajar SMA melalui email (saya bekerja di bidang portal edukasi).

Kenapa saya perlu email?

Ketika mencoba melihat dari perspektif remaja, memang wajar kalau email menjadi medium yang tidak menarik. Ingin berkorespondensi? Ada Facebook dan Twitter. Mengerjakan tugas sekolah? Ada Google, forum, dan yang terakhir ini ada QA platform seperti StackExchange. Hampir semua kebutuhan informasi mereka bisa di akomodir tanpa menggunakan email.

Pada saat mereka — secara inisiatif atau dipaksa — menggunakan email, otomatis email akan menjadi benda yang lambat laun akan dibuang. Komunikasi via email hanya akan dilakukan ketika: si penerima tidak ada di medial sosial, atau dipaksa untuk berkorespondensi via email oleh guru/dosen.

Beberapa tahun lalu, sebagai anak kuliah, saya terjatuh di alasan pertama: Saya mulai kesulitan berkomunikasi dengan berbagai pihak melalui media sosial. Ada dosen, ada mantan guru SMA, ada researcher dari universitas lain, yang memiliki medium komunikasi berbeda tapi punya satu kesamaan: menggunakan email. Akhirnya saya mulai mencoba lagi untuk aktif menggunakan email. Disinilah saya merasa email menjadi lebih superior: Cocok untuk komunikasi dengan siapapun, dari manapun, dalam hal apapun.

Email menjadi kompetitif ketika kita berkomunikasi dengan berbagai macam pihak. Mulai dari mereka yang ada di media sosial, yang tidak ada, ataupun yang hanya ingin media sosial mereka dipakai untuk keperluan pribadi.

Menurut saya inilah masalah utama penggunaan email di kalangan remaja. Ada perbedaan tipe komunikasi antara remaja dan proffesional. Sehingga membuat email dalam perspektif mereka menjadi tidak efisien. Pada akhirnya, siapa yang mau di-email? semua teman sudah ada di Facebook dan Twitter.

Apakah ini sebuah implikasi bahwa sekarang memang bukan jamannya email? Entahlah, masih terlalu dini karena email masih jadi medium vital bagi sebagian besar lainnya. Yang jelas, sosialisasi email di kalangan remaja tidak bisa hanya dilakukan secara berjamaah: mendaftarkan akun mereka dan membiarkan mereka berjalan sendiri.

"Sosialisasi email"

Jika harus dilakukan — menurut saya — sosialisasi email haruslah dijalankan secara progresif; perlahan tapi pasti. Aspek terpenting yang membuat media sosial menjadi lebih kompetitif adalah karena si pengguna sudah punya kenalan disana. Itu juga alasan kenapa Facebook masih berjaya dibanding Google+: Karena teman kita ada di Facebook dan tidak di Google+.

Harus ada stimulan agar pengguna baru tetap aktif berkorespondensi melalui email, stimulan ini berbentuk komunikasi dua arah. Kita bisa memperkenalkan email melalui model mailing-list, atau membuat korespondensi secara grup. Intinya jangan memperkenalankan email dan membiarkan si pengguna berjalan sendiri, berharap mereka akan mendapatkan seseorang yang akan jadi teman ber-email.

Pada akhirnya, email dan media sosial punya tempat tersendiri, tapi tidak dipungkiri bahwa media sosial berhasil mencuri hati banyak orang, sementara email — yang lebih tua — masih dipandang asing bagi sebagian besar masyarakat. Memperkenalkan email ke khalayak awam tidaklah seperti memperkenalkan media sosial, yang pada umumnya kita disuapi konten. Haruslah ada kesabaran, serta ketekunan.





© Dedy Purwanto | Archives