Dedy Purwanto

Masa depan vs trend kemarin sore

21 Feb 2014

Akhirnya datang juga. Saya adalah salah satu yang paling penasaran dengan langkah Google membeli selusin perusahaan dan institusi robotika: Schaft (tim robot Jepang pemenang kontes DARPA), Industrial Perception (3D vision robotics), Redwood Robotics (terfokus di motor functions), Boston Dynamics (ultra-responsive humanoid robotics), dan seabrek perusahaan robotics lainnya. Beberapa bulan sebelumnya, Google juga berinvestasi biotech startup seperti Amidab dan Calico, yang visi-misinya adalah untuk better-living seperti anti-aging dan obat berbasis protein. Sedangkan untuk akuisisi perusahaan robotika, hingga pada waktu Google membeli salah satu selebriti di dunia robotika: Boston Dynamics, Google masih bungkam tentang apa yang akan perusahaan raksaksa dengan aset lebih dari 100 trillion ini lakukan terhadap selusin perusahaan robotika yang dibelinya.

Lebih terdengar menakutkan atau menjanjikan?. Melihat kebelakang dengan hal-hal yang sudah mereka perkenalkan, Google tidak terdengar seperti perusahaan yang suka bermain aman, sebagian besar dari kita masih memperdebatkan tingkat keamanan Google self-driving car ketika Google memperkenalkan Google Glass, yang tentunya semakin banyak menuai kontroversi, namun tidak dipungkiri visi yang tertanam didalamnya bisa merubah cara hidup kita sebagaimana itu telah terjadi ketika Google Search diperkenalkan hampir 14 tahun yang lalu.

Hari ini, Google memperkenalkan Tango, sebuah cara untuk men-digitalkan lingkungan sekitar kita dengan menggunakan kamera smartphone. Kamera cukup di arahkan ke sekeliling kita dan Tango akan membuat model 3Dnya lengkap dengan semua objek yang ada disekitar kita. Bayangkan ini seperti Google Map yang punya alur jalan, disini Tango akan membuat alur jalan didalam sebuah ruangan: ia akan mengerti arah mana yang tidak bisa/bisa dilewati, seperti koridor, atau dinding dan meja. Seperti Google Map yang bisa memberikan kita rekomendasi restoran atau pom bensin terdekat, Tango juga nantinya bisa memberitahu kita letak buku yang kita cari di perpustakaan yang besar, atau juga memberitahu posisi penjahat didalam sebuah gedung tanpa polisi harus masuk. Dengan Tango kita juga bisa bermain virtual reality, dimana akan ada objek virtual yang bisa berkeliling ruangan kita, dan kita bisa melihatnya melalui layar smartphone, pernah terpikir untuk main petak umpet dengan karakter virtual dikantor Anda?.

Dengan banyaknya pujian yang diterima oleh Tango, datang juga banyak skeptisisme dan ketakutan, seperti Google yang nantinya akan memiliki lebih banyak lagi informasi pribadi kita, terlebih lagi dengan pemberitaan beberapa bulan ini tentang pemerintah yang melakukan penyadapan data melalui perusahaan teknologi seperti Google dan Facebook, sehingga hampir tidak satu orang pun datanya akan aman di internet. Bagaimana nasib Tango dan penerimaanya di khalayak luas nanti, kita akan lihat. Yang jelas, Tango adalah salah satu buah dari hasil membeli selusin perusahaan robotika beberapa bulan yang lalu. Dan kita sekarang sudah mulai bisa membaca kemana arahnya, besar kemungkinan Tango akan diintegrasikan dengan Google Glass, mengingat smartphone bukanlah benda yang ergonomis untuk environmental mapping, bisa juga ini akan diintegrasikan dengan self-driving car, atau Google juga membuat robot mini yang bisa melakukan auto-mapping tanpa supervisi manusia.

Tango bukanlah yang pertama melakukan 3D mapping seperti ini, sudah banyak upaya pihak lain untuk mengaplikasikan 3D mapping. Salah satu yang menurut saya menarik adalah Nintendo 3DS, sebuah konsol dengan bentuk seperti Gameboy, yang dilengkapi dengan 6 buah kartu yang bisa disusun diatas meja, kemudian jika kita arahkan konsol ini ke kartu-kartu tersebut, dilayar konsol akan terbentuk objek 3D yang akan merespon pergerakan konsol kita.

Melihat satu lagi hal yang diperkenalkan oleh Google ini, membuat saya merasa bahwa hal-hal yang kita pelajari sekarang akan semakin cepat menjadi outdated. Baru beberapa tahun lalu saya bisa membuat website sendiri, namun anak-anak SMA sekarang sudah bermain mikrokontroler dan robotika.

Inilah kenapa tulisan ini saya beri judul "masa depan vs trend kemarin sore". Beberapa waktu lalu, Facebook membeli Whatsapp dengan harga $19 billion, dan sebelumnya juga membeli Instagram $1 billion. Menarik sekali melihat dua perusahaan raksaksa, Google dan Facebook, melakukan investasi dengan jumlah besar, ke arah yang berbeda. Apa yang membedakan? Google melakukan investasi ke bidang yang masih relatif baru, sementara Facebook kearah yang sudah aman dan terbukti. Tidak hanya Google dan Facebook, cukup banyak startup yang bermain aman dengan memilih jalur yang sudah proven, seperti social network dan sejenisnya, karena itulah kita masih melihat website seperti Google+, Path, dan sebagainya.

"Trend kemarin sore" saya pinjam dari sebuah tulisan menarik tentang Facebook adalah last-year fashion:

What was cool in the 70s wasn’t cool in the 80s. What became cool in the 80s was no longer cool in the 90s. Social networks are susceptible to the same shift in trends and fashion that we’ve witnessed in society before our social lives extended into the digital world. This is why social networks, like Google+ (where I worked for one year), are struggling even more than Facebook to get a foothold in the future of social networking. They are betting on last year’s fashion – they’re fighting Facebook for the last available room on the Titanic when they should be looking at all of the other ships leaving the marina.

Menarik sekali bahwa tidak hanya di level startup, kita-kita pun secara individual masih banyak bermain di last-year fashion, bidang-bidang yang kenyataannya sekarang sedang terbenam menunggu tenggelam. Banyak dari kita yang aware bahwa hal-hal yang sedang kita pelajari saat ini, besok pagi sudah akan tenggelam digantikan oleh hal-hal baru, namun tetap menjalaninya. Saya sering mengingatkan diri sendiri setiap kali belajar hal baru, untuk memahami konsepnya lebih dari teknologinya. Ini pula yang saya terapkan dipemrograman, sebagai upaya saya untuk tidak terikat di last-year fashion, agar tidak terikat di bahasa pemrograman atau framework manapun, serta lebih mendalami konsep fundamentalnya yang bisa saya terapkan di teknologi lain.

Sebuah tulisan menarik tentang automation yang saya baca, 10 tahun yang lalu, kita harus menghabiskan 500 ribu dollar untuk melakukan bisnis logistik, yang hari ini, bisa dilakukan dengan biaya $30 melalui automation. Contoh lainnya? Beberapa tahun yang lalu web freelancer kebanjiran job membuat website, hari ini? sudah ada Wordpress, dan gratis. Mengutip dari blog yang bersangkutan:

Don’t get too comfortable. Don’t get locked into a language. Don’t burn bridges for short term gain. Keep your tools sharp. Learn soft skills. Build an audience. Save some money. Network. Read.

Larry Page bisa menyimpulkan ini dalam dua kata: moon shot. Untuk mengikuti perkembangan jaman yang benar-benar cepat seperti sekarang, dan terhindar dari tempurung last-year fashion, maka kita harus memiliki target yang tinggi. Caranya? selalu berani mengambil resiko dan tidak bermain dizona aman, hal-hal yang bisa membuat kita berkembang berkali-kali lipat dibanding dengan hal-hal yang biasa kita lakukan setiap harinya, mengutip perkataan Jeff Atwood:

One of my philosophies is to always pick the choice that scares you a little. The status quo, the path of least resistance, the everyday routine — that stuff is easy. Anyone can do that. But the right decisions, the decisions that challenge you, the ones that push you to evolve and grow and learn, are always a little scary.

Semoga dengan berbagai macam inovasi yang ada sekarang, bisa membuat saya juga termotivasi untuk belajar lebih banyak lagi dan berani keluar dari zona aman.





© Dedy Purwanto | Archives