Dedy Purwanto

Determinasi dulu dan sekarang

03 Feb 2014

summary: Jika melihat kebelakang, saya seringkali kagum dengan diri saya yang dulu, sekitar 14-15 tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku SD/SMP. Ketika itu saya baru pertama kali mendapatkan komputer yang tujuan aslinya bukanlah untuk saya, melainkan untuk kakak pertama saya yang saat itu mengenyam pendidikan SMA, yang sedang membutuhkan komputer sebagai pendukung kegiatan belajarnya. Waktu itu komputer bukanlah barang umum, dan saya yang dibesarkan dengan kartun sci-fi seperti Spiderman, Jurrassic, serta game-game playstation, seringkali mengasosiasikan komputer dengan hal-hal yang imaginatif. Hasilnya, rencanya ayah saya membeli komputer membuat saya jauh lebih antusias dibanding si kakak. Berminggu-minggu sebelum membeli, saya sudah membayangkan berbagai macam hal luar biasa yang ingin saya lakukan di komputer, saya membeli buku gambar, lalu membuat berbagai macam sketsa seperti karakter game, robot, mobil, yang rencananya akan saya aplikasikan di komputer tersebut. Aplikasi seperti apa? saya tidak tahu, bahkan memegang komputer pun belum pernah.

Jika melihat kebelakang, saya seringkali kagum dengan diri saya yang dulu, sekitar 14-15 tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku SD/SMP. Ketika itu saya baru pertama kali mendapatkan komputer yang tujuan aslinya bukanlah untuk saya, melainkan untuk kakak pertama saya yang saat itu mengenyam pendidikan SMA, yang sedang membutuhkan komputer sebagai pendukung kegiatan belajarnya. Waktu itu komputer bukanlah barang umum, dan saya yang dibesarkan dengan kartun sci-fi seperti Spiderman, Jurrassic, serta game-game playstation, seringkali mengasosiasikan komputer dengan hal-hal yang imaginatif. Hasilnya, rencanya ayah saya membeli komputer membuat saya jauh lebih antusias dibanding si kakak. Berminggu-minggu sebelum membeli, saya sudah membayangkan berbagai macam hal luar biasa yang ingin saya lakukan di komputer, saya membeli buku gambar, lalu membuat berbagai macam sketsa seperti karakter game, robot, mobil, yang rencananya akan saya aplikasikan di komputer tersebut. Aplikasi seperti apa? saya tidak tahu, bahkan memegang komputer pun belum pernah.

Sampailah hari dimana komputer yang ditunggu datang, saya masih ingat tidak tidur semalaman karena terlalu antusias. Kemudian saya mengetahui kalau komputer yang dibeli ayah adalah bekas, tapi tidak membuat saya kecewa sedikitpun. Komputer tersebut adalah Compact dengan prosesor Intel generasi sebelum pentium, dengan Windows 95, 32MB RAM, CD dan Floppy. Ketika pertama kali dinyalakan dan windows menampilkan desktop, semua imajinasi saya tiba-tiba buyar, tampilan komputer ternyata sangat berbeda dengan apa yang ada di film-film yang saya tonton. Esok harinya, kakak saya mulai menunjukan ketidak tertarikannya terhadap komputer, sehingga sebagian besar kesempatan bisa saya pakai untuk mempelajari benda yang bagi saya benar-benar baru tersebut. Perlahan tapi pasti saya mulai bisa menggunakan program di komputer tersebut, mulai dari Wordpad, Paint, Notepad, Calculator dan lain sebagainya. Dengan kemampuan bahasa inggris yang hampir tidak ada, saya mulai menangkap bagaimana cara membuka sebuah file melalui program apapun, menggunakan Windows Explorer, mencari file, men-defrag hardisk (tanpa tau apa itu defrag), hingga suatu waktu komputer saya rusak dan saya harus berjuang mencari cara memperbaikinya sendiri, karena ayah saya tidak akan mau mengeluarkan biaya lagi untuk memperbaiki komputer yang saat itu harganya tidak murah, saya kemudian mulai belajar tentang installasi ulang windows, dan berhasil melakukannya untuk pertama kali, dengan modal 10 floppy disk yang saat itu saya gunakan untuk backup data, yang akhirnya tidak dipakai sama sekali!.

Seiring waktu berjalan, saya mulai fasih menggunakan komputer, dan mulai kenal dengan dunia game development dari majalah-majalah seperti Hotgame, Chip dan Mikrodata. Saat itu saya masih ada di bangku SMP, dan setiap kali membaca majalah-majalah tersebut, hati saya berdegub kencang, ingin sekali rasanya menghasilkan sesuatu (game) tapi saat itu pengetahuan saya sangat minim sekali. Setiap sore saya selalu ke toko majalah menanyakan apakah ada edisi baru dari salah satu majalah tersebut, saya menyisihkan uang jajan saya untuk membeli ketiga majalah tersebut yang saat itu rata-rata harganya adalah 30 ribu rupiah. Kemudian pada satu waktu, saya menemukan sebuah artikel tentang membuat game menggunakan HTML dan Applet di majalah Mikrodata, itu adalah salah satu pintu pertama saya di dunia programming, artikel tersebut melampirkan full source code untuk membuat game, dan saya menyalinnya ke komputer selama beberapa jam, yang akhirnya tidak jalan sama sekali. Tapi dengan kegagalan itu saya belajar tentang sintaks Applet dan HTML (yang tidak bisa saya bedakan keduanya pada saat itu). Kemudian saya menjadi lebih antusias di dunia gamedev, saya mulai curi-curi kesempatan untuk pergi ke mall (saat itu saya tidak diperbolehkan karena jauh dan tidak bisa naik motor). Di mall, saya menghabiskan berjam-jam di warnet, itu adalah masa-masa pertama bagi saya mengenal internet, kemudian saya juga menghabiskan waktu di toko buku, untuk membaca buku pemrograman game menggunakan Pascal dan VB, karena uang yang tidak cukup, saya membawa buku catatan dan menyalin bagian-bagian penting buku, seringkali saya tertangkap basah sedang menyalin oleh staff lalu kemudian dimarahi, tapi karena usia saya yang masih SMP, saya hampir tidak merasa malu, saya hanya merasa sedikit takut, lalu melanjutkan aktifitas saya seperti biasa.

Di rumah, saya mulai melihat iklan tentang telkomnet instan di TV, pada satu malam, saya secara diam-diam mulai menggunakan layanan tersebut, dan mulai aktif di dunia maya, email pertama saya berada di Plasa.com, dan melalui situs tersebut juga, saya mulai mengenal tentang dunia Chat, saya juga mulai mengenal cara membuat situs dengan bantuan Geocities dan Tripod. Pada saat itu saya sangat ketagihan dengan internet untuk mencari berbagai macam pembelajaran. Hingga pada satu waktu sepulang dari sekolah, saya akhirnya ketahuan memakai telkomnet instan dari tagihan telepon yang mencapai angka diatas 2 juta. Angka yang luar biasa besar di jaman itu, dan saya sama sekali tidak terfikir bahwa layanan telkomnet instan yang saya pakai setiap malam ternyata memakan biaya sebanyak itu. Saya dimarahi habis-habisan selama beberapa minggu selanjutnya. Saat itu saya dipenuhi oleh rasa bersalah, tapi pada waktu yang sama antusiasme saya di bidang komputer tidak luluh sedikitpun, malah semakin bertambah.

Beberapa minggu kemudian, saya berhasil menghasilkan sebuah game berjenis Dart menggunakan software SwishMax, lalu berlanjut ke game HTML kemudian VB. Saya semakin antusias di bidang pemrograman, saya menghabiskan banyak sekali uang dan waktu untuk belajar pemrograman, mengesampingkan waktu untuk keluarga dan teman sebaya. Saya masih ingat saat itu pernah mengajukan proposal pembuatan website untuk sekolah SMP saya, yup, benar sekali, waktu SMP saya pernah membuat website untuk SMP saya dan mengajukannya ke kepala sekolah, yang akhirnya kemudian di tolak mentah-mentah, karna pada akhirnya ya saya memang masih SMP.

Waktu berjalan hingga akhirnya saya masuk SMK, antusias saya di bidang pemrograman tidak turun sedikitpun, tapi bergeser dari game ke web development. Disinipun saya menghabiskan banyak waktu untuk belajar, belajar dan belajar. Saat itu dipikirkan saya hanya ingin belajar tentang segalanya, saya ingin tahu segalanya.

Semakin banyak saya belajar, semakin banyak saya tahu, hingga pasca kuliah hingga bekerja sekarang, ketika saya sudah cukup tahu tentang berbagai hal, mulailah muncul berbagai macam noise, atau gangguan kanan-kiri yang terkadang memecahkan konsentrasi saya. Saya mendapati diri saya lebih jarang belajar hal-hal baru ketimbang dulu di awal-awal, saya lebih banyak terganggu dengan hal-hal sepele seperti lurking di situs aggregator seperti HN dan Reddit, memikirkan tentang setup yang ergonomic, debat kusir tentang IDE yang terbaik, atau sekedar melihat-lihat timeline twitter dan facebook. Saya masih ingat dulu ketika saya tidak punya akses seperti ini serta tanpa social network seperti sekarang, saya justru jauh lebih produktif dalam hal belajar.

Saya sering berfikir, apakah saya masih bisa punya determinasi seperti dulu? seperti ketika saya rela dimarahi oleh staff penjaga toko buku? atau seperti ketika saya dimahari orang tua karena memakai internet diam-diam? atau juga seperti ketika saya tahan tidak tidur hingga pagi hari untuk membuat program?.

Karena itulah belakangan ini saya mulai berfikir, dengan akses yang luar biasa mudah seperti sekarang, saya seharusnya bisa memaksimalkannya dan bisa menghasilkan hal-hal yang lebih bermanfaat, dengan pengetahuan yang jauh lebih ada ketimbang dulu, saya seharusnya bisa berbagi kepada teman-teman lain jauh lebih banyak dibanding dulu. Saya mulai meluangkan lebih banyak waktu lagi didepan komputer, untuk sekedar menulis artikel, membuat library, atau melanjutkan ide-ide saya dulu yang sempat tertunda.

Saya berharap tulisan ini nantinya bisa menjadi pengingat bagi saya untuk tetap memaksimalkan apapun yang saya punya: waktu, pengetahuan, sumber daya, semuanya. Saya berharap tulisan ini bisa membangkitkan semangat saya di waktu malam atau pagi, untuk menimba ilmu dan tetap produktif, dengan determinasi yang tinggi, sama seperti diri saya yang dulu saat masih polos dan penuh dengan rasa ingin tahu.





© Dedy Purwanto | Archives