Dedy Purwanto

Pemrograman Visual

05 Aug 2012

Beberapa bulan lalu saya sering cerita via chat ama temen tentang tugas kuliahnya di kampus *tiiiit*, beberapa kali dia mention tentang tugas mata kuliah Pemrograman Visual, setelah saya intip, cukup kaget karena materinya tidak sesuai dengan judul mata kuliahnya. Kalau kalian lagi ambil mata kuliah Pemrograman Visual dan diajarin VB atau Java, selamat, kalian tersesat.

Belakangan ini saya mulai terusik lagi dengan judul mata kuliah Pemrograman Visual. Sekarang saya pengen bahasa singkat aja (karna kalau diulas semua sumpah panjang banget) tentang salahnya dimana dan apa yang membedakan antara Pemrograman Visual dan yang bukan.

Permasalahan utamanya adalah: Mata kuliah dengan judul Pemrograman Visual, tapi dengan materi bahasa pemrograman seperti Visual Basic dan Java, digabungkan dengan software seperti Microsoft Visual Studio, Eclipse dan NetBeans.

Bahasa-bahasa tersebut bukanlah bahasa pemrograman visual

Dalam desain bahasa pemrograman, ada satu bagian tentang studi semantik, yaitu proses penterjemahan sebuah valid statement dari bahasa pemrograman menjadi sebuah computational model, ini terdiri dari banyak sekali parameter, salah satunya adalah struktur sintatik, dan dimensi.

Jumlah dimensi inilah yang menentukan bahwa bahasa-bahasa seperti VB dan teman-temannya adalah bukan bahasa pemrograman visual, melainkan textual programming language. Apa saja dimensi textual programming language?

Dimensi vertikal meskipun salah satu bagian utama, tapi bukan bagian dari semantik melainkan spatial relationship, atau flow/blok selanjutnya setelah blok pertama (baris pertama).

Apa itu Pemrograman Visual?

VPL adalah bahasa pemrograman yang menggunakan banyak dimensi yang visually expresive sebagai semantiknya. Expresi Visual bukan berarti tombol-tombol di Microsoft Visual Basic untuk bikin textbox atau picture box, tapi simbol-simbol yang menjelaskan tentang alur program, hubungan antar entity, dan impact.

Didalam VPL, saya bisa secara visual mendeklarasikan A dan B, lalu menggabungkan keduanya dengan sebuah operator matematika, lalu melihat dampaknya secara langsung, semua dalam bentuk diagram/simbol.

Flowchart, UML Diagram, adalah contoh dari model sebuah VPL, dimensinya adalah spatial relationship lewat penunjuk panah, atau time-based impact seperti perubahan data sebelum dan sesudah.

Tapi kan, saya pakai Microsoft Visual Basic/Netbeans, bisa drag & drop, itu visual!

Software yang dipakai untuk 'drag & drop' itu adalah development environment, nggak boleh disamakan dengan bahasa pemrogramannya, development environment adalah software yang ngasih kita shortcut untuk melakukan task-task yang umum seperti manage project, bikin GUI (Form/Tombol/Textbox/dll), bikin build, dll, tapi dibelakang layar mereka ngehasilin kode yang kurang lebih sama dengan kalau kita ngetik di teks editor biasa. Tampilan GUI yang dibuat di software ini juga di simpan ke file teks manifest biasa.

Ini yang namanya VPE (Visual Programming Environment), bahasa pemrograman seperti Visual Basic dan Java punya Microsoft Visual Studio dan Netbeans sebagai VPEnya, namun nggak diwajibkan harus pakai karena sifat textual programming languagenya yang dengan semantik terbatas bisa dimanage sebagai teks biasa dan bisa di compile terpisah.

Sedangkan VPE untuk untuk Visual Programming Language (VPL) lebih bersifat sebagai sebuah keharusan karna VPL sendiri sangat ekspresif dan sulit untuk bekerja dengan VPL (dengan simbol dan sebagainya) tanpa menggunakan software yang mensupport untuk membuat visually expressive syntax.

Tadi katanya Textual Programming itu berbentuk teks dan VPL berbentuk simbol, Jadi maksudnya VPL itu nggak boleh ada teks sama sekali?

Ini yang paling sering disalah artikan, TP dan VP itu yang membedakan adalah semantik, bukan tentang teks atau tidak, VPL juga punya teks di beberapa bagian sampai batas tertentu.

Lalu kenapa ada VPL? Salah satu main goalnya adalah untuk nge-improve language design yang sekarang konvensional seperti textual programming language, masalah dengan textual programming language adalah sifatnya yang restriktif sekali, nggak banyak ekspresi yang bisa kita lakukan karena dibatasi oleh struktur sintaks & parse tree bahasa pemrograman yang bersangkutan, sementara VPL punya lebih sedikit aturan, sehingga result yang dihasilkan bisa bermacam-macam karena objek dan spatial relationshipnya yang nggak terlalu restriktif.

Lalu apa efek negatifnya belajar Pemrograman Visual dengan materi yang salah?

Banyak sekali, ibaratkan dengan ikut les bahasa Korea tapi yang diajarkan adalah bahasa Jepang. VPL kebanyakan bukanlah general-purpose-language, sedangkan yang diajarkan (contoh:Java), adalah general-purpose-language, VPL lebih domain spesifik seperti untuk edukasi, hardware, dan multimedia seperti audio analyzer atau animation. Sedangkan bahasa seperti Java punya fungsi/domain yang luas sekali. Ditambah lagi biasanya materi yang diajarkan adalah tentang "Visual" yang salah, yaitu gimana cara membuat program berbasis GUI, gimana caranya supaya waktu tombol A ditekan, keluar gambar kucing lagi pakai topi semangka, dll. Ini bukan visual programming, mempelajari membuat program berbasis GUI nggak akan ngajarin kita tentang visual programming, dan bisa jadi tersesat lebih jauh, contoh: mengesampingkan materi yang lebih penting ketimbang belajar GUI, seperti programming language paradigm.

Post ini cuma mau menekankan perbedaan mendasar dari textual-programming language, dan VPL. Nggak ada contoh/screenshot karena pengennya dibahas singkat aja tentang karakteristik utama masing2 jenis programming languagenya.

Untuk paper yang ngebahas tentang VPL cukup lengkap, ada disini: http://www.cs.auckland.ac.nz/courses/compsci732s1c/archive/2005/lectures/WhatIsVP.pdf





© Dedy Purwanto | Archives