Dedy Purwanto

Teman makan teman

13 Mar 2008

Aku orang yang termasuk "sangat" tidak ingin kehilangan teman. Teman itu adalah harta karun yang paling berharga, nggak bisa diganti dengan harta sebanyak apapun. Ketika udah nggak punya apa-apa atau kepepet, teman pasti nolong. Untuk urusan tolong menolong pun mereka tidak pernah berlebihan, menolong semampu dan semau mereka saja. Itu membuktikan bahwa tidak ada "udang dibalik batu" dari setiap pertolongan yang diberikan. Yah, setidaknya bergitulah pandangan singkat yang kumiliki tentang seorang teman.

Aku punya seorang teman yang dulu bisa saling kenal karena bertemu diacara berskala nasional. Saat itu kami hanya saling bertemu selama satu minggu, tapi kami sempat bertukar kontak instant messenger.

Hari ini teman tersebut menyapaku dari instant messenger. Awalnya aku senang sekali, kami saling bertanya kabar seperti orang yang lama tidak bertemu pada umumnya. Tapi ketika pembicaraan sudah mulai jauh, dia bertanya "Hei, sekarang kerja apa kuliah". Karena aku bukan orang yang suka jujur, jadi aku bilang aja dulu "Masih nganggur nih dirumah". Aku pikir ini pertanyaan dan jawaban yang normal, sampai akhirnya dia bertanya "Kamu mau nggak dapat penghasilan perbulan tanpa modal?, caranya mudah kok!". Doh, perasaanku mulai nggak enak. Karena nggak mau berprasangka buruk dulu, jadi aku ladenin saja "Wah, memangnya bisa? gimana caranya tuh?". Maka diapun mulai menjelaskan panjang lebar tentang bisnis yang ditawarkan, yaitu mencari partner jualan, mengumpulkan poin, dll.. Sampai disitu aku sudah tidak bisa lagi menyangkal prasangka buruk yang tadi udah dihilangkan. Aku dibisnisin MLM sama teman sendiri :evil: . Mungkin karena itu dia terlihat begitu akrab dan aku sendiri sempat heran kenapa bisa terlalu care saat bertanya kabar. Berusaha untuk tidak menyinggung perasaannya, akupun meladeni pembicaraan itu hingga ketahap yang agak lebih mendalam, kemudian dengan sengaja mengubah status IM ku jadi invisible :D

Itulah yang mengerikan dari seorang teman yang tidak tahu apa artinya memiliki teman, mungkin agak berlebihan jika aku mengutip kalimat yang pernah kutonton disatu film : "Kamu nggak akan pernah tahu apa yang kamu punya, sebelum semuanya hilang.". Bisnis sih boleh-boleh saja, aku juga nggak ada komentar tentang bisnis tipe-tipe seperti diatas, tapi mbok ya kira-kira to mbak,jangan temen baik juga dijadiin sasaran keuntungan. Kayak nggak ada orang lain aja, memangnya nggak mikir ya gimana perasaan temen kalau dia tahu bahwa dia dimanfaatkan. Yah mungkin juga dia masih hijau dan belum tahu banyak tentang ini, sampai saat ini aku masih bisa menganggapnya sebagai teman, tapi tidak pernah kusapa karena setiap disapa selalu ujung-ujungnya ngajakin bisnis tersebut (yang bisa bikin dia untung). Bukan aku nggak mau teman sendiri sukses, tapi ini bukan tentang uang. Punya uang berapapun juga ngga guna klo ngga punya siapa-siapa.

Yah, sekali lagi aku ngga kritik bisnisnya, tapi orang yang menjalankannya dengan cara "mencaplok" teman sendiri, setidaknya untukku pribadi, aku risih banget kalau digituin :D . Pernah dengar sejarah group band legendaris The Beattles?. Kini personilnya hanya tinggal 2. 2 diantara mereka telah meninggal, yang satu ditembak mati oleh penggemarnya sendiri, dan yang satu lagi kalau tidak salah terkena kanker (atau serangan jantung?). Kedua personilnya yang masih ada sering ditanya dan ditawari untuk manggung di seluruh dunia, dan mereka selalu menolak, "Kami tidak mungkin melakukannya, 2 dari kami telah tiada". Padahal mereka bisa meraup keuntungan jutaan dolar dari konser itu.

Itu baru namanya teman!.





© Dedy Purwanto | Archives