Dedy Purwanto

Java Jive Coding Competition 2008

28 Mar 2008

image Tawaran untuk ikut kompetisi koding akhirnya datang lagi. Kali ini dari universitasku, ceritanya cukup aneh tapi nyata. Tapi intinya hanya satu, aku nggak mau lagi ikut kompetisi terkecuali atas keinginanku sendiri, terlebih lagi jika kompetisinya tidak sesuai dengan hal-hal yang aku senangi. Lantas bagaimana bisa aku terlibat dalam kompetisi ini ?. 2 minggu yang lalu, aku kembali ke kampung halaman untuk menghadiri resepsi pernikahan kakakku yang paling tua. Untuk itu, aku meminta izin kepada kampus untuk tidak masuk selama 10 hari. Izin diterima dan akupun kembali ke kampung halaman pada tanggal 14 Maret.

Tanggal 24 maret, aku kembali lagi ke kampus. Sampai di kampus sekitar pukul 9 malam, aku sempat tanya ke teman kamar, apakah ada tugas baru atau berita baru, kemudian dia bilang bahwa aku telah dimasukan kedalam tim Java Jive Coding Competition 2008, hey, apa apaan nih?.

Di kampusku, memang kami baru diajarkan tentang konsep programming yang baik itu seperti apa (secara general), solving problem seperti apa, dll. Java adalah salah satu programming language yang kami pelajari disini. Dan aku bukan orang yang ahli dibidang ini, mungkin dulu sempat membuat game ini dan juga ini dengan java, tapi jelas itu jauh berbeda. Aku bukan salah satu yang ahli dan sama sekali tidak tertarik dengan tema Java Jive tahun ini. Mungkin dia sempat mencantumkan namaku karena kemarin bisa buat sample hello world dengan kode yang cukup aneh :p

Besoknya, pada kelas programming. Si dosen tanya, "Dedy, are you ready for the project?". Aku cuma bisa nyengir, dalam hati menolak keras, aku nggak mau lagi ikutan ginian. Lomba-lomba sebelumnya sudah cukup memberikan pelajaran bahwa aku bukan orang yang bisa bekerja dibawah tekanan (lomba), lagipula aku tidak tertarik dengan temanya. Sekarang masalahnya adalah, gimana cara menolaknya secara halus?. Dosenku adalah dosen yang baik, meskipun aku tidak terlalu akrab .

Hari ini, aku kembali dipanggil, bersama 3 orang teman lain yang akan masuk kedalam tim. Kulihat mereka tampak begitu semangat, mungkin karena hadiahnya S$3000. (Singapore dollar), iPod touch 4GB, dan Nintendo Wii untuk tiap orangnya. Aku sendiri juga tertarik, tapi kalau harus ngorbanin perasaan (lagi), masuk dengan keterpaksaan, lebih baik enggak deh, mending belajar koding aja lagi di kamar. Si dosen menjelaskan, bahwa kami berempat dan 2 murid lain dari kelas lain, akan dites secara individual, kemudian akan dipilih siapa yang ikut dan tidak ikut. Dan yang lolos akan membuat aplikasi berbasis Web 2.0 (development dalam Solaris, Java, dan NetBeans) selama 10 minggu, kompetitor berasal dari Singapore dan Thailand.

Terlihat cukup menggiurkan, tapi ketika dilihat lebih jauh : aplikasi bertema healthcare, nggak tertarik. Using java, nggak tertarik. Final kompetisi diadakan bulan Juni, ini yang lebih mengerikan, masa aku harus ikut lomba dan nahan perasaan keterpaksaan ini sampe bulan juni? Nggak deh hehehe..

Yep, dari sinilah aku dapat celah untuk menolak ikut, dari test individual. Cukup jawab soal dengan ngawur maka harusnya secara otomatis aku bakal di eliminasi dari tim :D . Tidak peduli gimana sikap dosen setelah aku melakukan itu, tapi yang penting bisa tenang secara batin. Tesnya mungkin beberapa hari lagi, doain aja biar aku bisa jawab dengan ngawur dan sukses dikeluarkan dari tim :D

Sudah cukuplah ikut lomba seperti ini di SMK, terkecuali kalau ada waktu lagi dan memang sesuai dengan keinginan. Cukuplah masa-masa SMK yang indah seperti ini , ini , ini juga , dan juga ini . Mungkin aku baru akan ikut yang kompetisi lagi jika ada inisiatif sendiri :D





© Dedy Purwanto | Archives